Pages

Subscribe:

Consultan said

Mari Majukan Industri Kecil menengah di Indonesia tercinta!! Lawan penyerangan Pasar bebas 2015 !!!

Selasa, 24 April 2012

PENGARUH SUSUMBER DAYA KOGNITIF KONSUMEN TERHADAP PRODUK SELAI PALA DARI KEP MALUKU


               Perilaku Konsumen terhadap keputusan pembelian dari suatu Produk tidak mungkin terlepas dari Sumber daya kognitif yang dimiliki oleh setiap manusia. Secara singkat sumber daya kognitif  menggambarkan kapasitas mental yang tersedia untuk menjalankan berbagai kegiatan pengolahan informasi. Alokasi kapasitas kognitif dikenal sebagai perhatian (attention). 

Selengkapnya...

BAB I
PENDAHULUAN

.1     Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara penghasil pala terbesar di dunia, terutama di Indonesia bagian timur yaitu daerah Maluku. Berdasarkan data statistic Maluku tahun 2010, luas tanaman Pala mencampai 9.948 ha. Dengan menghasilkan produksi 2.357 ton. Ini  merupakan komoditas unggulan daerah Maluku  dan merupakan sumber pertumbuhan ekonomi dan pendapatan daerah. Berdasarkan ketersediaan bahan baku, teknologi, nilai jual, peluang pasar produk pala dan derivatnya kesempatan kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat, maka pala berpeluang dikembangkan di Maluku
 Namun demikian, produk olahan pala masih sangat sedikit dan masih sangat sederhana. Selama ini kita hanya mengetahui  bahwa Pala lebih dikenal sebagai salah satu bumbu dapur yakni sebagai penyedap untuk roti atau kue, puding, saus, syuran dan minuman penyegar. Pala dikenal kaya akan kandungan vitamin C dan vitamin A, kalsium dan fosfor. Selain sebagai bumbu dapur/penyedap yang lazim pala diolah menjadi manisan. Satu lagi jenis olahan berbahan dasar pala, yakni selai pala.
Selai adalah bahan dengan konsistensi gel atau semi gel yang dibuat dari bubur buah. Konsistensi gel atau semi gel pada selai diperoleh dari interaksi senyawa pektin yang berasal dari buah atau pektin yang ditambahkan dari luar, gula sukrosa dan asam. Interaksi ini terjadi pada suhu tinggi dan bersifat menetap setelah suhu diturunkan. Kekerasan gel tergantung kepada konsentrasi gula, pektin dan asam pada bubur buah.
Selai pala ini belum terlalu banyak pemainnya, selain bahannya cukup banyak ketersediaannya di pasaran. Cara pembuatannya juga tidak terlalu sulit sehingga masih memiliki prospek yang baik untuk dikembangkanDewasa ini, dengan pertubuhan populasi manusia yang sangat meningkat tiap harinya, dengan ketersedian bahan baku yang melimpah maka kebutuhan akan produk olahan pala semakin tinggi. Dengan demikian peluang pasar semakin terbuka.


1.2  Tujuan Pembuatan Selai Pala :
·         Menciptakan produk turunan pala yang dapat memberikan nilai tambah sesuai dengan standar Nasional maupun Internasional.
·         Memenuhi kebutuhan Konsumen terkhusunya masyarakat kota Ambon dengan pengembangan produk berbasis Pala yang merupakan komoditas unggulan daerah tersebut.
·         Meningkatkan daya jual di bandingkan dengan bahan bakunya saja. Dengan demikian maka  perekonomian petani buah pala akan lebih meningkat dan otomatis akan meningkatkan perekonomian daerah tersebut.
·         Mengejahterahkan pelaku ikm pala terkhusus ikm selai pala sehingga mampu bersaing di pasaran baik lokal, nasional, maupun internasional.



BAB II
(PENGUMPULAN DATA DAN ANALISIS DATA)

1.3  Kondisi Geografis Kota Ambon

Sebagai daerah kepulauan, Provinsi Maluku memiliki luas wilayah 712.480 Km2, terdiri dari sekitar 92,4% lautan dan 7,6% daratan dengan jumlah pulau yang mencapai 1.412 buah pulau dan panjang garis pantai 10.662 Km. Sejak tahun 2008, Provinsi Maluku terdiri atas 9 kabupaten dan 2 kota dengan Kota Ambon sebagai ibukota Provinsi Maluku
Letak Kota Ambon berada sebagian besar dalam wilayah pulau Ambon, dan secara geografis terletak pada posisi: 3– 4o Lintang Selatan dan 128o – 129o Bujur Timur, dimana secara keseluruhan Kota Ambon berbatasan dengan Kabupaten Maluku Tengah.

1.4  Perkebunan (Pala)  Di Kota Ambon

Perkebunan di Maluku umumnya adalah perkebunan rakyat, disamping perkebunan besar milik negara maupun swasta. Komoditas utama dari perkebunan rakyat adalah kelapa, cengkeh, dan pala.
Potensi lahan untuk pemanfaatan perkebunan di Maluku diperkirakan mencapai 1.295.022,46 Ha, namun lahan yang sudah dikembangkan baru mencapai 190.669 Ha pada tahun 2009 atau baru mencapai 14,72%     untuk berbagai usaha tanaman perkebunan  yaitu  kelapa, cengkeh, pala, kakao, dan lainnya. Produk akhir usaha perkebunan di Maluku sebagian besar masih terbatas pada bentuk produk primer, sehingga sangat terbuka peluang investasi pembangunan industri hilir.  



Luas Penggunaan Lahan Perkebunan Rakyat (Pala) dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku :
Kabupaten/Kota
Luas Area Perkebunan Pala
 Ambon
1,367
 Buru
1,693
 Kepulauan Aru
-
 Maluku Tengah
925
 Maluku Tenggara
1,305
 Maluku Tenggara Barat
-
 Seram Bagian Barat
2,281
 Seram Bagian Timur
2,377
 Maluku
9,948

Produksi komoditi tanaman perkebunan rakyat  (pala) dan tanaman perkebunan besar yang dirinci berdasarkan kabupaten/ kota di Provinsi Maluku dapat dilihat pada Tabel berikut ini :
Kabupaten/Kota
Luas Area Perkebunan Pala
 Ambon
128
 Buru
223
 Kepulauan Aru
-
 Maluku Tengah
305
 maluku Tenggara
120
 Maluku Tenggara Barat
-
 Seram Bagian Barat
545
 Seram Bagian Timur
677
 Maluku
1.998

Komoditi 
 Produksi (Ton) 
 Total (Ton) 
 Negara
 Swasta 







 Pala
 354,0
 2003,0                    
 2357,0








BAB II
ANALISIS SUMBER DAYA KOGNISI DARI PALA
A.     Keadaan Geografis
Kondisi topografi wilayah Kota Ambon agak datar mulai dari pesisir pantai sampai dengan wilayah pemukiman. Morfologi daratan Kota Ambon bervariasi dari datar, berombak, bergelombang dan berbukit serta bergunung dengan lereng dominan agak landai sampai curam. Daerah datar memiliki kemiringan lereng 0–3%, daerah berombak kemiringan lereng 3–8%, daerah bergelombang 8–15 %, daerah berbukit 15–30% dan daerah bergunung kemiringan lerengnya lebih besar dari 30% dan didukung oleh cuaca dan tanah yang cocok untuk tanaman pala yang nilainya sangat tiggi didalam dunia perdagangan. Daratan Maluku adalah penghasil rempah-rempah yang terkenal didunia dalam hal ini pala terbesar khusunya diBanda, Ternate dan Ambon.
Kondisi Topografi pulau Maluku sangat cocok dengan Syarat tumbuh Pohon Pala , adapun kecocokan dari aspek –aspek  syarat tumbuh pala yaitu :
*     Iklim
1)      Tanaman pala  membutuhkan iklim yang panas dengan curah hujan yang tinggi dan agak merata/tidak banyak berubah sepanjang tahun.
2)      Suhu udara lingkungan 20-30 derajat C sedangkan, curah hujan terbagi secara teratur sepanjang tahun. Tanaman pala tergolong jenis tanaman yang tahan terhadap musim kering selama beberapa bulan.

*     Media Tanam
1) Tanaman ini membutuhkan tanah yang gembur, subur dan sangat cocok pada tanah vulkasnis yang mempunyai pembuangan air yang baik. Tanaman pala tumbuh baik di tanah yang bertekstur pasir sampai lempung dengan kandungan bahan organis yang tinggi.
2) Sedangkan pH tanah yang cocok untuk tanaman pala adalah 5,5 – 6,5. Tanaman ini peka terhadap gangguan air, maka untuk tanaman ini harus memiliki saluran drainase yang baik.
3) Pada tanah-tanah yang miring seperti pada lereng pegunungan, agar tanah tidak mengalami erosi sehingga tingkat kesuburannya berkurang, maka perlu dibuat teras-teras melintang lereng.
*     Ketinggian Tempat
Tanaman pala dapat tumbuh baik di daerah yang mempunyai ketinggian 500-700 m dpl. Sedangkan pada ketinggian di atas 700 m, produksitivitas tanaman akan rendah.
wilayah Maluku dikenal sebagai penghasil rempah-rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh adalah rempah-rempah purbakala yang telah ada dan telah digunakan ribuan tahun sebelum masehi. Pohonnya sendiri merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore), yang dahulu dikenal oleh para penjelajah sebagai Spice Islands.
B.     Keadaan Demografi
1.      Potensi SDM
SDM di Kep. Maluku merupakan Masyarakat yang sudah turun Temurun menggeluti bidang pertanian pala dan terkenal dengan kemahiran dan keuletannya. Dalam hal ini skill dari SDM Kep. Maluku telah memiliki skill dan kemampuan dalam Proses perkebunan dan pengolahan tanaman Pala.
2.      Potensi Ekonomi
Kondisi perekonomian Provinsi Maluku dalam kururn waktu 2009 – 2011 mengalami peningkatan secara konsisten dari tahun ke tahun. Hal in ditandai oleh kenaikan PDRB Kep. Maluku pada triwulan 3 mengalami peningkatan dimana tumbuh sebesar 3,24 % dibandingkan Triwulan kedua pada tahun yang sama. peningkatan tersebut dikarnakan naiknya semua sector ekonomi, sector Pertanian yang merupakan Kontribusi terbesar pada PDRB Prov. Maluku.
3.      Infrastruktur Daerah
 Suksenya suatu pengenalan dan penjualan suatu barang tidak terlepas dari ketersediaan Sarana pendukung Infrastuktur daerah yang menjadi sarana Distribusi Produk ke Segmen-segmen pasar sasaran, adapun Sarana Infrastuktur pada Prov.Maluku sbb :

*     TRANSPORTASI
Transportasi Darat,  Untuk menghubungkan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya di satu pulau, di Provinsi Maluku telah terdapat    prasarana    jalan terutama    di   Pulau   Ambon,Pulau Buru, Pulau Saparua, Pulau Haruku, Pulau Banda, Pulau Seram, Pulau Yamdena, dan Kei Kecil.
Total panjang jalan di Maluku pada tahun 2007 mencapai 3.769 Km yang terdiri dari 26,14% jalan nasional (sekitar 985 Km), 23,87% jalan provinsi (sekitar 900Km), dan 49,99% merupakan jalan kabupaten/kota (sekitar 1.884 Km).
Untuk transportasi laut, di Provinsi Maluku terdapat 27 pelabuhan umum dengan konstruksi pada umumnya berupa beton, yang tersebar di hampir semua wilayah Provinsi Maluku. Pelabuhan yang merupakan pelabuhan utama dan berfungsi sebagai pelabuhan ekspor terdapat di Ambon dan Tual. Kedua pelabuhan tersebut berperan sebagai pusat koleksi distribusi inter regional maupun intra regional yang berfungsi sebagai pintu gerbang (gateway port) ke wilayah Indonesia Bagian Timur dan wilayah lainnya seperti Pelabuhan Surabaya, Ujung Pandang, Bitung, Ternate dan negara Timor Leste. Khusus di Pelabuhan Ambon, pada Tahun 2008 tercatat kegiatan bongkar muat barang  sebanyak 1.514.216.966 Ton/M3, muatan bongkar sebanyak 915.612.348 Ton/M3 dan muatan muat sebanyak 598.604.618 Ton/M3, sedangkan arus penumpang adalah penumpang turun sebanyak 172.618 orang dan penumpang naik sebanyak 129.674 orang. 
Untuk transportasi udara, Provinsi Maluku memiliki bandar udara internasional Pattimura di Kota Ambon yang berfungsi sebagai pusat penyebaran tersier   utama    dalam    wilayah Maluku dan juga melayani rute penerbangan nasional dari Kota Ambon ke provinsi lainnya seperti rute Ambon ke Makasar, Surabaya,  Jakarta, Jayapura, Sorong, dan Biak.  Jenis pesawat yang mampu mendarat di Bandar Udara Pattimura untuk keluar wilayah provinsi sudah berkapasitas besar, yaitu lebih dari 100 penumpang, seperti jenis Boeing 737-200 dan 737-900ER, F-100,    MD–82, MD83 serta jenis MD90. Selain bandar udara Pattimura, terdapat juga 12 bandar udara pelayanan skala lokal, tersebar di beberapa daerah di Maluku. Kegiatan angkutan udara yang menghubungkan Kota Ambon dengan berbagai kota besar di Indonesia dilayani oleh maskapai penerbangan Lion Air,  Batavia Air,  Sriwijaya Air, dan Garuda Indonesia Airlines, dengan  frekwensi penerbangan 6 kali sehari. Disamping itu, untuk menghubungkan Kota Ambon sebagai ibukota provinsi dengan wilayah kabupaten/kota dilayani oleh 4 (empat) maskapai penerbangan yaitu Merpati Airlines, Wings Air, Trigana Air dan Express Air
*     LISTRIK
Penyediaan tenaga listrik di Provinsi Maluku oleh PLN dengan menggunakan tenaga diesel (PLTD) sebanyak 47 unit, terdapat di semua kabupaten/kota se Provinsi Maluku. Produksi listrik PLN di Maluku selama tahun 2008 adalah 298.504.781 KWh. Total kapasitas terpasang 136.612 KW dan daya mampu 66.287 KW, serta beban puncak 62.310 KW. Wilayah Provinsi Maluku masih terbatas dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan listrik, sehingga masih dibutuhkan pengembangan kelistrikan dari berbagai sumber seperti PLTD, PLTS, maupun Listrik pembangkit Mikro Hidro.

*     TELEKOMUNIKASI
Pelayanan telekomunikasi di Provinsi Maluku oleh PT. Telkom dan usaha jasa telekomunikasi seluler. Pelayanan telekomunikasi oleh PT Telkom telah menjangkau semua ibu kota kabupaten/kota, juga telah beroperasinya beberapa operator telepon seluler seperti Telkomsel, Indosat dan Excelindo.

*     PERBANKAN
Aktifitas perbankan yang beroperasi di Maluku tersebar di seluruh kabupaten/kota hingga ke kecamatan. Bank yang beroperasi di Provinsi Maluku antara lain Bank Maluku, Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Tabungan Negara, Bank Central Asia, Bank International Indonesia, dan Bank Muamalat.   

C.     Pengaruh sumber daya kognitif bagi produk pala
Perilaku Konsumen terhadap keputusan pembelian dari suatu Produk tidak mungkin terlepas dari Sumber daya kognitif yang dimiliki oleh setiap manusia. Secara singkat sumber daya kognitif  menggambarkan kapasitas mental yang tersedia untuk menjalankan berbagai kegiatan pengolahan informasi. Alokasi kapasitas kognitif dikenal sebagai perhatian (attention).
Tanaman Pala dari Kep. Maluku Merupakan Tanaman Rempah – rempah yang telah dikenal sejak masa sebelum Masehi yang memiliki nilai yang tinggi baik dari segi harga yang ditawarkan dan trust dari benak konsumen selain itu pula Pala dapat menghangatkan tubuh dan mempuyai banyak manfaat dari aspek Industri makanan maupun kesehatan. Informasi yang telah menyebar inilah yang mempengaruhi Pola pikir Masyarakat Nasional bahkan Internasional untuk mencari, menggunakan atau mengkonsumsi segala macam Produk turunan pala. Akibat trust  yang telah ada dalam Ingatan masyarakat terhadap pala tersebut. Secara tidak langsung masyarakat telah menggunakan sumberdaya Kognisinya yang pada akhirnya menghasilkan sebuah ingatan yang familiar dibenak masyarakat yang berdampak bagi peluang usaha produk berbahandasar Pala nantinya.  Masyarakat telah melalui  3 tipe ingatan dari sumber daya kognisi antara lain sensor memori, yaitu terjadi pada saat sebelum mengenal produk dimana suatu stimulus analisa untuk memutuskan apakah memerlukan proses lebih lanjut. memori jangka pendek, dimana informasi hanya diingat sekilas oleh konsumen ketika memproses suatu stimulus, memori jangka panjang, berhubungan dengan memori jangka pendek melalui symbol dan dapat diingat kembali.
Ingatan yang dimiliki masyarakat dapat mempengaruhi tahapan respond dan pertimbangan dalam memilih Produk. Dalam hal ini diharapkan masyarakat yang sebelumnya telah menggunakan sumber daya kognitifnya menjadi ingatan terhadap tanaman pala akan bersikap sama terhadap Produk Selai Pala ini.
Pengolahan komoditi Pala sebagai produk jadi dalam hal ini diolah menjadi Selai Pala sebagai pengganti Butter pada roti dan bahan pelengkap makanan, merupakan sebuah nilai tambah bagi komoditi ini terlebih peminat pasar akan komoditi ini sangat tinggi, maka dari itu peluang pasar yang terlihat sangat lebar ini dimanfaatkan sebagai perangsang pertumbuhan Ekonomi masyarakat.
Oleh sebab itu komoditi ini kami pilih untuk dijadikan produk jadi karena melihat permintaan pasar yang sudah sangat meningkat tajam dan juga dalam proses produksi untuk memenuhi permintaan pasar sudah sangat memadai seperti data yang terlihat pada bagian keadaan domografi diatas.



BAB III
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

2.1    Perkembangan dan Proyeksi Permintaan Produk
Permintaan selai pala di kota Ambon relatif tingi, banyak pengusaha pengolahan pala yang tumbuh di kota ini. Biasanya pala diolah menjadi manisan pala dan sekarang ini terdapat inovasi baru yaitu selai pala.
Untuk rencana awal kami akan memasarkan secara local yaitu di daerah sekitar kota Ambon saja karena permintaan di Kota Ambon sendiri sangat banyak.
Segmen pasar dari usaha selai pala yaitu untuk semua golongan dari golongan bawah hingga atas, dengan target pasarnya segala usia yaitu dari balita hingga lansia, karena produk ini bisa dikonsumsi untuk segala usia.
2.2    Analisis Persaingan
Usaha pengolahan pala yang telah ada di Kota Ambon hanya sedikit yang hanya mengolah pala menjadi manisan pala. Jadi ini menjadi peluang yang sangat besar untuk usaha dibidang pengolahan selai pala.

Untuk posisi pasar bagi pengusaha manisan pala dan selai pala yang berada di Kota Ambon yaitu sebagian dari mereka sebagai market leader atau pemimpin pasar dan sebagian ada pula sebagai penantang pasar serta pengikut pasar. Dan usaha Selai pala sendiri memposisikan dirinya sebagai ceruk pasar (market nicher) hal ini bertujuan untuk mengambil pasar yang tersedia.
Sedangkan untuk perkiraan struktur persaingan, diasumsikan persaingan akan meningkat sebesar 2,5% setiap tahunnya, hal ini berdasarkan dari semakin meningkatnya angka pertumbuhan perekonomian di Kota Ambon sebanyak 5% dan pertumbuhan penduduk sebesar 2% disetiap tahunnya. Dari beberapa faktor tersebut dapat mempengaruhi struktur persaingan dimasa yang akan datang.

2.3    Peluang pasar
Dalam pengembangan usaha selai pala, membuat suatu rencana penjualan dan mencari pangsa pasar yang dimiliki. Produk selai pala ini merupakan suatu usaha yang baru dirintis di Kota ambon, masih terdapat satu pengusaha yang mengembangkan usaha tersebut, sehingga peluang usaha untuk usaha ini masih terbuka luas. Namun untuk usaha yang berbahan baku pala yaitu terbuat dari daging pala. Dari hal tersebut maka peluang pasar yang dimanfaatkan masih terbuka luas.
2.4  bauran pemasaran 4p
1.                       1. Produk
Permasalahan produk yaitu belum adanya usaha untuk membuat pala mempunyai nilai tambah, sehingga konsumen tidak hanya mengenal pala sebagai rempah rempah saja namun mempunyai nilai tambah yang bisa di konsumsi oleh konsumen ,dan pemilihan nilai tambah pala dengan membuat selai pala, pala sendiri mempunyai cita rasa yang berbeda, jika selai biasa manis namun dengan selai pala ,maka akan di peroleh rasa yang unik, Pala merupakan salah satu komoditas ekspor penting, karena 60% kebutuhan pala dunia dipasok dari Indonesia. Buah ini dikenal sebagai tanaman rempah yang memiliki nilai ekonomis dan multiguna. Setiap bagian tanaman, mulai dari daging, biji, hingga tempurung pala dapat dimanfaatkan untuk industri makanan, minuman maupun kosmetika.
Maka dari itu mengolah pala menjadi selai pala merupakan peluang bisnis untuk mengembangkan pala,

2.                         2. Price
Upah yang dihasilkan oleh IKM pala masih terbilang sederhana,sehingga mengurangi minat untuk memproduksi atau mengembangkan pala,pada umumnya pala hanya di gunakan sebagai rempah rampah saja.
Dengan memanfaatkan pala dan memberi nilai tambah pada pala maka harga pala yang di produksi akan meningkat.
Berikut rincihan sederhana biaya produksi selai pala :


3.      Place
Kurangnya pengembanagn dan pengetahuan tentang pala yang di produksi ikm membuat para pelaku ikm cenderung pesimis dalam memproduksi atau mengolah pala, untuk itu perlunya diklat untuk lebih mendalami tentang pala mulai dari kreatifitas pengolahan pala, kemasan , dan kualitas produk agar konsumen tertarik terhadap macam macam produk olahan pala.
Tempat untuk memasarkan juga berpengaruh terhadap penjualan selai pala, rencana pemasaran kami yaitu local dengan memperkenalkan produk ke masyarakat sekitar .
Sementara ini ikm pala yang berkembang terbanyak di kota ambon, di kota ambon sekarang para pelaku ikm mengembangkan minuman pala yang di jadikan welcome drink di hotel hotel, minuman pala berbentuk seperti minuman penyegar, maka adanya peluang seperti ini dapat di manfaatkan dengan memasarkan produk selai pala kepada hotel hotel untuk memperkenalkan selai pala kepada warga pendatang yang berada dalam hotel dan masyarakat asli ambon.
4.      Promosi
Pemasaran atau penjualan masih menggunakan metode sederhana dan tergolong masih penjualan tatap muka karena belum banyak orang yang mengenal selai pala ini, maka langkah awal kita perkenalkan terlebih dahulu kepada konsumen.
Mengenalkan produk selai  ini di pasar, supermarket, dan hotel hotel yang berada di kota ambon, karena pelaku ikm pala banyak di ambon maka di kembangkan dan di promosikan di kota ambon dahulu, yang fungsinya agar masyarakat lebih mengenal selai pala.

0 komentar:

Poskan Komentar